Proses Penelusuran Akibat Kasus Tersebut

Proses Penelusuran Akibat Kasus Tersebut

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan industri menghentikan proses produksi, distribusi dan recall terhadap seluruh batch produk yang berdasarkan hasil pengujian diduga mengandung cemaran etilen glikol (EG) atau dietilen glikol (DEG) di atas ambang batas.

Hingga saat ini, Kemenperin telah berkoordinasi secara langsung dengan mengunjungi beberapa industri farmasi untuk memastikan fasilitas produksi telah memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), serta produknya terdaftar dan memiliki Nomor Izin Edar (NIE).

“Pengecekan ke fasilitas produksi dilakukan untuk memastikan bahwa industri tidak menggunakan EG dan DEG sebagai bahan baku tambahan dalam sirop obat,” ujar Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin Ignatius Warsito dalam keterangan tertulis kepada artikelfarmasi, Rabu (26/10).

Kemenperin juga memastikan industri memiliki tim khusus yang menangani laporan pelanggan terhadap produknya, serta melakukan farmakovigilans untuk memantau efek samping dari obat yang diproduksi.

“Industri telah melakukan karantina terhadap seluruh produk obat sirop maupun bahan baku PEG, PG, sorbitol, dan gliserin atau gliserol yang ada di gudang pada fasilitas produksi,” imbuhnya.

Kemenperin mendorong industri farmasi untuk selalu mendukung kesehatan masyarakat dengan menyediakan produk-produk obat yang aman, berkhasiat, dan bermutu.
Kementerian bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Kesehatan, dan seluruh industri farmasi untuk memastikan mutu berlaku atas seluruh produk sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Menurut Dinas Kesehatan

Petugas Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mengumpulkan obat jenis sirop yang dihentikan sementara distribusinya di gudang farmasi, Banda Aceh, Aceh, Senin (24/10/2022).

Petugas Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mengumpulkan obat jenis sirop yang dihentikan sementara distribusinya di gudang farmasi, Banda Aceh, Aceh, Senin (24/10/2022).
“Sehingga produk yang didistribusikan, mutu dan kualitasnya terjamin dan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Kemenperin mengimbau industri farmasi menggunakan bahan baku yang sesuai dengan regulasi, serta melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala baik bersama-sama dengan BPOM, maupun pengujian secara independen.

Untuk memastikan keamanan produk obat-obatan, Kemenperin meminta perusahaan untuk melakukan uji laboratorium terhadap parameter kritis seperti persyaratan cemaran pada bahan baku obat yang digunakan, sesuai dengan Farmakope Indonesia atau standar mutu lainnya yang berlaku.

“Kami juga memastikan perusahaan mengimplementasikan sistem manajemen kualitas di industri farmasi berjalan guna menjamin produk yang dihasilkan memenuhi syarat quality, safety dan efficacy sesuai dengan regulasi yang berlaku,” tuturnya.
Hal ini bertujuan untuk menelusuri seluruh faktor risiko penyebab gagal ginjal, baik dari sumber obat-obatan maupun potensi penyebab lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *